uapbara; keyahgimanalagian
Aku pun ingin berkisah.
Ini bukan kisah bagus.
Ga berharap banyak, selain nambah-nambah postingan.
Ini juga bukan kisah picis romantis. Cih, cuah.
Ini tentang petualangan, pengembaraan, tentang menjangan…
Bala-bala.
Dan Uap.. :p
Aku bukan seorang yang dengan lantang berkata-kata.
Kadang jenuh mencoba, tapi tidak putus asa.
Dikiit.
Sederhana dimana didalamnya terdapat relung-relung rumit terikat, tertarik dan terangkai dengan unik.
Aku anak baik.
Tulus.
Merasa terhormat, entah apa yang selalu membuatku demikian adanya.
Tempat dingin sepi kadang berdebu, walau hanya beberapa kali, selalu menyimpan kesederhanaan dan senyuman tentunya.
Walaupun,
Kubelah laut biru, belum tentu bertemu.
Seseorang berkata : “seseorang seperti mu takkan pernah sendirian”
*kecuali dirinya yang merasa demikian tentunya.
Uap.
Menguap.
Sebuah transisi, bentuk transisi. Bentuk yang tidak berbentuk. Sebuah fase, tahap.
Sweet disposition.
Pengembara.
Seperti kera sakti yang melakukan perjalanan ke barat. Bersama awan kinton, mengantarkan pengembara untuk memandu. Ini di darat, bukan di laut. Pengembaraan itu dimulai.
Sehari sebelumnya, pengembara terjaga. Tetap menjaga kesadarannya. Entah apa kekuatannya. Namun, ia tetap terjaga. Senyum renyah dan melepaskan semuanya yang tersisa dalam ruang mewah istana timur. Bertahan dengan tiga belas kartu warna warni yang terus menerus berputar. Sampailan disuatu pagi. Sang pengembara ingat akan janjinya untuk melakukan perjalanan ke barat. disimpannya tenaganya, dengan mata merah lelah letih, namun ia tidak akan menyerah.
Entah kekuatan apa yang menyanggupinya.
Pergilah pengembara untuk mengambil keretanya, di ujung timur tanah yang dinjanjikan. Namun, kereta itu bisa dipakai dengan sarat, sang pengembara mengantar anak tuan tanah, ke tempat anak tersebut melatih ilmu bela diri. Dengan terduyun-duyun dan awalnya merencanakan untuk mengistirahatkan tubuhnya, sang pengembara menyanggupinya. diantarkannya anak tuan tanah tersebut…
Sang pengembara cemas ia datang terlalu pagi menuju tempat yang dijanjikan. Di kota burung hantu, di barat negeri ini. Dari timur ke barat. Ini bukan pengembaraan yang mudah, bagi siapapun, terutama bagi seseorang yang tubuhnya menuntut haknya, untuk istirahat dengan tenang tentunya.
Pengembara,
Bukanlah turis di kota sendiri. Orang asing di tanahnya sendiri.
Sampailah di kota Burung Hantu, ditanah yang telah dijanjikan untuk bertemu. Di barat jauh negeri ini.
Dengan kesadaran setengah, sang pengembara lelah,
Ia hentikan keretanya, didepan sebuah surau, di pesisir jalan utama,
Bukan karena enggan untuk menepati janjinya pada uap.
Namun, tubuhnya menuntut hak. Menuntut haknya.
Istirahat dengan tenang.
Sambil tersenyum dan tidak sabar tentunya. Namun, ia berusaha adil dengan dirinya sendiri.
Ia gumamkan nama tiga kali, seakan ia akan menjadi kuat.
Inginnya segera bertemu, namun… ia…
Hanya orang sederhana yang karena keyahgimanalagian akhirnya menjadi realistis.
Tergeletak di surau antah barantah.
Sendiri.
Dan akhirnya menutup matanya sejenak, kehilangan kesadarannya, sambil tersenyum. Menggelikan diri sendiri tentunya. ;p
“tempat ini dingin”
Aku memerlukan alesan agar ada alibi untuk melakukan pengembaraan ini, yang mebuatku berkenan untuk melaksanakan perjalanan dan tua dijalan. Hingga ditengah-tengah ketidaksadaran dan keistirahatan ku, terimpikan alasan bersebut. Alasan itu ada, tentu saja, namun terlalu gengsi untuk dikatakan.
Konon, di barat negeri ini terdapat uap tak bermata yang memberi ketenangan.
Uap ini telah memberi pengembara tujuan,
untuk berjalan kedepan, memberi alasan.
Untuk apa pula geletakan di surau antah barantah, mungkin lebih baik istirahat di rumah.
Pengembaraan itu berakhir di istana, sebuah istana, di puncak pegunungan tinggi, dan dingin tentunya. Uap tipis tak bermata itu tersenyum menyambut.
“ko baru datang sih?” fufufufu
Seorang bara dan seorang penguap…
putri penguap.
fin.

zzzzz…fufufufufu
asal ada, kecil pun pada.
hopefully similar or even better.