Skip to content

pohon; akhir adalah awal mula adalah akhir adalah

March 25, 2011

fufufu,

“anda ingat kisah tentang pohon.

kisah inspirasional pohon.

aku yang hampa dan ingin bercerita,”

prolog: duli bijak,

duli bijak : “fufufu,”

suatu ketika,

ada bocah kecil di tengah persimpangan jalan.

“hey bocah kecil, kau mencari arti, mencari makna?!?… mungkin pohon itu dapat memberikan mu sebuah arti. kau lihat pohon itu, bocah kecil”,  gumam duli bijak.

hah? aku? bocak kecil bertanya-tanya.

saat kau berbuat salah pada orang lain, pakulah pohon itu.

“….” bocah kecil bergeming,

hari hari berlalu, menjadi masa lalu. tanpa disadari pohon itu penuh dengan paku, tanda disadarinya..

….

lalu,

cabutlah paku itu dari pohon, setiap kali kau telah meminta maaf atas kesalahan yang telah kau perbuat..

“……” bocah kecil bergeming,

perlahan lahan ia, mencabut paku-paku tersebut…

perlahan lahan…

lalu hari berlalu, menjadi masa lalu, dan datang masa kini. tanpa disadari ,

pohon itu tetap tumbuh, tanpa disadari…

fufufu,

suatu ketika,

siang sangatlah panas, matahari tak berkawan dengan awan yang meneduhkan, dari kejauhan, bocah kecil masa kini menatap sebuah pohon yang tinggi besar, dan rindang, memberikan keteduhan di alasnya…

“pohon yang indah” gumamnya…

ia tersenyum dan mendatangi pohon itu..

lalu menyadari…

itu pohon yang ia paku,

yang pakunya ia cabut seiring berjalannya waktu, seiring berlalunya kata maaf …

walau hanya dirinya dan tuhannya yang tahu tentang maaf itu apa…

walau pohon itu hanya simbol,

fufufu,

ia berteduh sesaat di alas akar pohon tersebut,

ia terhenyak beberapa saat…

walau paku sudah tidak ada di pohon itu, bekasnya masih ada.

ia sentuh kulit pohon itu,

lubang bekas pakuan yang dalam, yang tanpa ia sadari masih berada disitu…

lubang bekas pakuan yang lebar besar, masih berada disitu,

pucat, gelap dan menganga,

namun,

pohon masih tumbuh besar, lebat, indah, rindang dan memberi keteduhan.

fufufu,

bocah diam pucat bergeming,

mempertanyakan,

————————————————————————-

pohon,

walau aku telah membuat mu lubang yang menganga,

apa kau akan menuntut balas perlakuan ku?

apa kau akan menuntut keadilan untuk mu?

apa kau akan tiba-tiba runtuh dan menimpa ku? *tentu aku tidak akan selamat dari mu”

apa maaf ku cukup untuk orang-orang? “mengingat pohon pun tidak meninggalkan bekas begitu sajah dengan mudahnya, bahkan sampai saat ini, bahkan sampai saat keberlaluan”

apa maaf ku cukup untuk ku?

salahkan saja aku masa lalu,

ia bodoh, miskin dan sombong, tidak menyadari hal seperti ini..

 

aku yakin kau dendam padaku,

mungkin kau tidak akan menuntut balas padaku,

apa daya mu,

dipaku pun kau diam saja,

dicabut paku pun kau diam saja,

 

atau mungkin,

diam adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukan,

dan tetap tumbuh dan berlalu,

pengabaian, pembiaran dan pemakluman,

tetap diam, memberi keteduhan, memberi ketenangan,

tidak mengutuk, mengeluh, mencibir, hanya biarkan berlalu sajah,

 

mungkin,

amarah mu begitu besarnya,

hingga tak sanggup untuk melakukan apapun,

berkata apapun,

tak sanggup untuk di keluarkan,

kepasrahan yang membuat seolah merasa bersama bahagia,

karena tidak akan memperbaiki apapun,

keyahgimanalagian membuat mu jadi realistis,

atau ini ketulusan sederhana,

apa yang membedakan dengan kebencian yang tak terkatakan yang terdiamkan yang tak dikeluarkan,

rantai kebencian,

gada bedanya,

hanya dirinya dan tuhannya yang tahu, *kalaupun bertuhan.

 

Mmm,

aku pun tidak akan mungkin siap untuk mendapatkan balasan dari mu,

mungkin akan lebih baik pemberlaluan seperti ini,

namun, aku merasa harus memberikan keadilan untuk mu,

pembiaran, pengabaian, mungkin hal yang terbaik yang bisa dilakukan,

dikala hampa dan ingin bercerita,

————————————————————————–

..

..

ditelingaku,

hanya sunyi, diam, semiliwir angin yang menjawab,

suara yang merdu..

dem,

dimana duli bijak disaat ia dibutuhkan.

”fufufu,”

x

bocah kecil : “fufufu,”

suatu ketika,

seorang tuan di tengah persimpangan jalan.

“hey tuan, kau mencari arti, mencari makna?!?… mungkin pohon dapat memberi mu sebuah arti.

kau lihat pohon itu, tuan…”

gumam bocah kecil.

Tap, tap, tap, hap, hap, hap, nyam, nyam, nyam….

Advertisement
2 Comments leave one →
  1. April 10, 2011 10:25 am

    great words Kang….

    “mungkin,
    amarah mu begitu besarnya,
    hingga tak sanggup untuk melakukan apapun,”

    paling suka yg ini :)

    • April 13, 2011 11:18 pm

      nice conclusion..
      menarik komennya…
      nuhun pisan…

      dan suka dengan “mungkin, amarah mu begitu besarnya, hingga tak sanggup untuk melakukan apapun,”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.